admin July 23, 2018

Pengusaha Sukanto Tanoto mampu mencapai keberhasilan di dunia bisnis karena satu hal. Sama seperti pebisnis lain yang berhasil, ia memilih untuk melangkah menghampiri kesuksesan.

Dalam dunia usaha khususnya bisnis sumber daya, Sukanto Tanoto merupakan nama besar. Pendiri sekaligus Chairman Royal Golden Eagle (RGE) ini dikenal sebagai sosok pebisnis sukses.

Bagaimana tidak, ia mampu mengembangkan RGE menjadi sebuah korporasi kelas internasional. Padahal, sebelumnya perusahaannya ini hanya merupakan bisnis skala lokal.

Apresiasi terhadap Sukanto Tanoto bakal semakin bertambah ketika melihat latar belakangnya. Sebelum menjadi konglomerat seperti sekarang, pria kelahiran Belawan ini hanya sulung dari tujuh bersaudara di sebuah keluarga sederhana.

Lahir pada 25 Desember 1949, Sukanto Tanoto tidak memiliki modal besar untuk memulai usaha. Ayahnya hanya imigran asal Tiongkok yang berdagang minyak dan onderdil kendaraan untuk menyambung hidup. Praktis Sukanto Tanoto tidak menikmati kemewahan hidup pada masa kecil.

Lebih dari itu, Sukanto Tanoto malah mengalami kesulitan hidup. Usai tragedi 30 September 1965, sekolahnya ditutup. Karena ayahnya masih berstatus sebagai warga negara asing, Sukanto Tanoto tidak bisa melanjutkan ke sekolah negeri. Mau tak mau, ia mesti berhenti dari bangku sekolah.

Kala itu, Sukanto Tanoto mesti memupus impiannya menjadi dokter. Bahkan, akhirnya ia harus mengelola toko keluarganya karena ayahnya sakit keras dan meninggal. Jadilah Sukanto Tanoto tinggal di atas rumah toko keluarga Medan. Ia hidup di sana sembari berjualan.

Namun, kesulitan hidup malah menjadi berkah baginya. Terjun dalam dunia usaha sebelum usianya menginjak 18 tahun membuatnya memiliki insting berbisnis yang tinggi. Tak heran, ia malah kian bersemangat untuk menjalankan usaha.

Sukanto Tanoto terus berupaya mencari bisnis sendiri baginya. Peluang akhirnya muncul ketika ia mendapat tawaran untuk menjalankan bisnis general contractor & supplier di bidang perminyakan. Tanpa ragu, ia melakukannya meski tidak punya pengalaman sama sekali.

“Ya saya mau-mau saja. Lagi pula saya masih muda,” katanya di Inspirasi Daily.

Rupanya Sukanto Tanoto memegang prinsip lebih baik melangkah satu langkah dari pada diam sama sekali. Ia percaya bahwa kesuksesan hanya bisa hadir ketika satu langkah telah diambil. Tanpa itu, keberhasilan tidak akan datang menghampiri.

Tantangan memang akan mengadang. Sebagai contoh ketika menjalankan bisnis general contractor & supplier. Perusahaannya mesti melakukan berbagai pekerjaan berbeda mulai dari membangun jalan dan rumah, menghubungkan pipa, memasang air conditioner, sampai membuat lapangan golf.

Berbagai pekerjaan itu nyaris tidak dikuasainya sebelumnya. Namun, Sukanto Tanoto mau belajar. Ia rajin mencari tahu bagaimana cara melakukan pekerjaan dengan baik. Akibatnya perusahaannya mampu menjalankan berbagai proyek dengan sukses. Itu pula yang membuat Sukanto Tanoto mengakui bahwa bisnis ini menjadi “sekolah teknik” baginya di dunia usaha.

Pada 1967, Sukanto Tanoto akhirnya mendirikan RGE yang hadir dengan nama awal Raja Garuda Mas. Perusahaannya ini mulai menerjuni bisnis di bidang sumber daya seperti yang digelutinya hingga kini.

Ketika itu, bidang industri pertama yang dijalani adalah pembuatan kayu lapis. Sukanto Tanoto tidak punya pengalaman di bisnis ini sebelumnya. Namun, ia merasa gerah karena Indonesia kesulitan memperoleh kayu lapis. Padahal, mudah sekali menumbuhkan pohon yang menghasilkan kayu sebagai bahan bakunya.

Ini yang membuat tekadnya bulat untuk membuat pabrik kayu lapis. Kebetulan saat itu pemerintah Indonesia hendak melarang ekspor kayu gelondongan. Alhasil, ia semakin untuk menjalankan bisnis tersebut.

Tak ayal, langkah maju segera diambil. Ia mengurus segala sesuatu untuk membuat pabrik di Besitang, Sumatera Utara. Proses pembangunan memakan waktu satu tahun. Maka, pada 1975, pabriknya sudah bisa berproduksi. Bahkan, presiden Indonesia saat itu, Soeharto, datang bersama beberapa menteri untuk meresmikannya pada 7 Agustus 1975

TERUS MELANGKAH

RGE saat ini menekuni berbagai bidang bisnis berbeda. Mereka tercatat memiliki anak-anak perusahaan di industri kelapa sawit, pulp dan kertas, selulosa spesial, viscose fibre, serta minyak dan gas. Hal itu tidak akan tercapai jika Sukanto Tanoto berhenti melangkah untuk menekuni satu bidang bisnis belaka.

Sukanto Tanoto tidak pernah mau berpuas diri dengan pencapaian yang diraih. Ia terus saja menantang dirinya untuk mencoba bidang usaha baru. Lihat saja, suami dari Tinah Bingei Tanoto ini nyaris buta terhadap bidang bisnis yang kini diterjuni RGE.

Reputasi sebagai perintis membuktikannya. Di beberapa bidang industri seperti kelapa sawit serta pulp dan kertas, Sukanto Tanoto tercatat sebagai pionir di Indonesia.

Ketika itu, ia berani saja menerjuninya. Padahal, cibiran dan keraguan dari pihak lain mengiringi. Namun, ia malah senang ketika ada pihak yang menantang idenya.

“Pendekatan bisnis saya simpel. Pertama, sebagai pionir, saya selalu mencari kesempatan untuk berinvestasi di bidang bisnis baru. Ketika tertarik di salah satu sektor, saya akan mencari informasi sebanyak mungkin dari yang saya bisa. Jika dari proses belajar yang saya lakukan, peluang yang saya temukan makin besar, maka saya akan ganti berbicara dengan orang-orang yang skeptis dengan hal tersebut,” katanya.

Lagi-lagi, Sukanto Tanoto memperlihatkan bahwa dirinya lebih senang mengambil langkah dibanding diam saja. Keraguan dari pihak lain tidak membuatnya surut. Ini malah dijadikannya sebagai penyeimbang supaya putusan yang diambilnya benar-benar tepat.

“Hal yang terpenting adalah jangan berhenti ketika orang mengatakan kamu tidak akan bisa melakukannya. Semakin skeptis atau negatif seseorang, maka akan bertambah besar kesempatan bagi Anda untuk mengambil pelajaran darinya,” ujar ayah empat anak ini.

Sebagai contoh ketika memulai bisnis kelapa sawit di Indonesia. Saat itu tidak ada orang melakukannya. Sebab, proses untuk menjalankannya sangat panjang.

Untuk memproduksi minyak kelapa sawit, sebuah perusahaan harus membangun perkebunan terlebih dulu. Setelah itu, mereka harus menanam pohon kelapa sawit dan merawatnya hingga dapat dipanen. Masa menunggu bisa mencapai tiga tahun.

Tentu saja biaya akan terus ke luar. Sebaliknya pemasukan belum ada. Inilah yang akhirnya membuat banyak orang enggan menekuninya.

Namun, Sukanto Tanoto berpandangan lain. Ia mau saja bersabar menunggu hasil datang dan rela bekerja keras membangun bisnis dari nol. Ia yakin industri merupakan bisnis berprospek besar.

Benar saja, kelapa sawit menjadi salah satu industri terpenting di Indonesia. RGE bisa sukses di sana dengan Asian Agri dan Apical yang menjadi anak perusahaan pelakunya.

Ketika itu, Sukanto Tanoto tak ragu melangkah. Ia sudah mengalkulasi semuanya sehingga pendapat miring tidak dihiraukannya. Secara khusus, ia mengakui kunci kesuksesannya di industri kelapa sawit adalah pengaturan cash flow yang baik.

Oleh sebab itu, ketika dimintai saran dari para pengusaha muda, Sukanto Tanoto selalu berkata agar segera memulai bisnis tanpa ragu. Sebab, keberhasilan tidak akan diraih tanpa kemauan melangkah.

“Mulai dari yang kecil di awal. Meskipun hal-hal paling sulit selalu di awal, ambillah langkah pertama. Jadilah praktis, realistis, dan cukup rendah hati untuk belajar dari orang lain,” kata Sukanto Tanoto.

(Visited 34 times, 1 visits today)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.