admin April 27, 2020

Generasi Z atau anak yang lahir sekitar tahun 2000an, pasti jarang memainkan permainan tradisional. Anak-anak ini lebih mengenal bermain game melalui smartphone. Zaman dahulu saat tak ada alat yang memadai untuk bermain, anak-anak memakai alat seadanya seperti dari alam. Berikut ini permainan tradisional tanpa alat yang memadai dan bisa menggunakan pengganti lainnya.

1.             Petak Jongkok

Permainan ini bisa dimainkan kapan saja dan di mana saja. Cara kerja permainan ini adalah hampir sama dengan permainan kejar-kejaran. Supaya tidak mudah tertangkap oleh ‘penjaga’ yang ditunjuk, pemain harus jongkok. Hal ini membuat ‘penjaga’ tidak bisa melihat dan menangkap mangsanya.

Adapun manfaat dari permainan ini adalah dapat meningkatkan kemampuan motorik. Selain itu juga bisa menjaga ketahanan fisik dengan cara berlarian. Sekaligus dapat meningkatkan kemampuan solidaritas dengan teman permainannya.

2.             Petak Umpet

Permainan ini sudah terkenal di berbagai tempat bahkan diberbagai belahan negara. Permainan ini juga sudah dimainkan diberbagai daerah. Cara mainnya pun cukup mudah. Tingga menunjuk ‘penjaga’ yang dipilih dan menyuruhnya menghitung biasanya sampai 10 detik.Selama waktu itu, pemain lainnya harus menyembunyikan diri sebaik mungkin.

Permainan ini tidak jauh beda dengan permainan petak jongkok. Hanya saja para pemain harus menyembunyikan diri. Adapun manfaat dari permainan ini adalah dapat melatih koordinasi antar pemain. Selain itu, bisa melatih kerjasama sesama pemain yang tidak menjaga.

3.             Benteng

Permainan ini terinspirasi dengan benteng kerajaan. Cara bermain mainan ini adalah secara berkelompok dan di bagi menjadi 2 bagian. Setiap kelompok harus memiliki benteng yang bisa diwakili dengan benda-benda. Misalnya pohon pisang, dinding rumah dan sebagainya. Tugas utamanya adalah menjaga benteng agar tidak direbut oleh musuh.

Pemain yang mendapat gilirian pertama maju bertugas untuk merebut. Kelompok lain harus menjaga dengan cara apabila lawan mendekat pintu masuk, berarti harus menangkap musuh. Musuh yang hendak tertangkap harus balik ke benteng asalnya. Apabila kelompok lain ingin mengejar maka tidak boleh melewati perbatasan.

Apabila ada musuh yang berusaha masuk kembali dan tertangkap, berarti harus mendekap di benteng lawan. Pemain lainnya harus menyelematkan kawan yang tertangkap dan menerobos bentang lawan. Permainan ini dikatakan berhasil dan selesai apabila salah satu benteng tertembus dan para pemain dari salah satu benteng tertangkap semua.

Adapun manfaat permainan ini adalah dapat menjalin kerjasama. Selain itu, dapat melatih perencanaan strategi untuk menyerang benteng musuh. Sekaligus melatih kekompakan komunikasi antar pemain.

4.             Panjat Pintu

Permainan ini biasanya dilakukan para anak laki-laki. Namun tidak menutup kemungkinan anak perempuan juga ikut memainkannya. Cara bermain mainan ini adalah memanjat pintu rumah atau kamar dengan cara kedua kaki harus merayap ditiap sisi pintu. Pemain yang menang adalah pemain yang berhasil sampai puncak dan bertahan setidaknya 10 detik.

Meskipun pemain memainkan mainan ini, biasanya akan dimarahi oleh oran rumah. Namun sekalipun begitu, manfaat yang didapatkan bisa berupa rasa semangat untuk terus berjuang. Selain itu, bisa melatih strageti agar bisa mencapai puncak.

Itulah beberapa permainan tradisional tanpa alat yang biasa dimainkan anak-anak pada zaman dahulu. Meskipun ada bebera risiko dari setiap permaianan yang mengintai, setidaknya masih bisa menjalin komunikasi dan bersosialisasi dengan kawan lainnya. Tentunya juga membuat badan tetap terjaga sehat karena tetap harus bergerak.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.