admin April 30, 2018

Tren fesyen muslim kini semakin banyak diminati masyarakat Indonesia. Hal ini tidaklah mengejutkan, mengingat Indonesia memiliki populasi umat Islam terbesar di dunia. Berbagai label, bazaar, dan peragaan fashion muslim semakin ramai bermunculan. Transformasi fashion muslim pun mulai terjadi, dari gaya konservatif menjadi lebih kontemporer atau stylish.

Perubahan ini sangat jelas terlihat. Jika melihat lima tahun yang lalu, wanita berhijab umumnya diminati oleh kaum dewasa. Seiring berkembangnya fashion muslim, kini fesyen hijab sudah mulai digemari oleh para remaja putri. Mereka berani tampil modis dengan baju gamis cantik dan variasi hijab yang kekinian.

Menurut Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian, Euis Saidah, terdapat 20 juta penduduk Indonesia yang menggunakan hijab. Meningkatnya pengguna hijab berjalan selaras dengan perkembangan industri fesyen muslim yang meningkat 7% di setiap tahunnya. Hal ini juga yang membuat Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) mengungkapkan bahwa fesyen muslim Indonesia tidak hanya dapat berkembang di dalam negeri saja, tapi juga ke tingkat dunia.

Baca juga Baju Koko Muslim Terbaru

“APPMI memulai kampanye industri busana muslim dengan route map 2015 busana muslim Indonesia sudah mampu menembus pasar ASEAN, 2020 mampu menembus pasar Asia, dan 2025 sudah menempuh pasar dunia,” ucap Taruna K. Kusmayadi selaku ketua APPMI saat diwawancarai pada acara sosialisasi gelaran Indonesia Islamic Fashion Fair (IIFF) 2012.

Dia juga menjelaskan bahwa data-data perkembangan fashion muslim di Indonesia sangatlah positif sehingga bukanlah suatu hal yang tidak mungkin untuk melebarkan sayap secara global. “Ingat pertumbuhan masyarakat kelas menengah itu 7-8 persen per tahun,” ujarnya.

Jika dilihat dari data, masyarakat yang membeli pakaian di pusat perbelanjaan besar umumnya adalah kelas menengah ke atas. Untuk itu, pertumbuhan kaum menengah ke atas akan selaras dengan kemampuan daya beli mereka atas pakaian tersebut. Dengan kata lain, jika industri fesyen muslim dapat menyentuh target pasar tersebut maka pertumbuhannya pun akan berkembang secara signifikan.

“Dari 750 ribu IKM yang di Indonesia, 30 persennya merupakan industri fashion muslim. Jika hal ini berjalan beriringan bukan tidak mungkin IKM fashion muslim pun akan terangkat ekonominya dan memicu pada peningkatan perekonomian di Indonesia juga,” tutur Taruna K. Kusmayadi. Secara umum, industri fashion dan produk kecantikan saat ini mampu menyumbang 50% dari pendapatan negara di bidang industri kreatif dan terdapat 2%-3% pertumbuhan ekspor setiap tahunnya, salah satunya adalah produk kosmetik untuk muslim, Wardah. Brand kecantikan asal Indonesia ini berhasil melebarkan pasarnya secara global dengan menjadi official makeup di ajang New York Fashion Week dan Asia Islamic Fashion Week yang diselenggarakan di Malaysia

Meski begitu, memperluas fashion muslim Indonesia secara mendunia bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Hal inipun sangat dimengerti oleh Euis Saidah. Menurutnya, Indonesia memiliki setidaknya lima tantangan dalam mengembangkan pasar fesyen yang antara lain bahan baku, teknologi, SDM, pemasaran, dan modal. “Kita masih sangat tergantung dari impor seperti katun dan sutra. Setelah ada virus yang menyerang kepompong sutra, bahkan kita harus mengimpor benang atau kain sutra tersebut,” katanya.

Sampai saat ini, IKM masih menggunakan teknologi yang sangat sederhana. Hal ini disebabkan oleh permasalahan modal dan kemampuan SDM yang tidak memadai atau tidak sesuai dengan standar internasional. “Masih banyak yang membuat barang hanya karena hobi atau ikut-ikutan tanpa memiliki basis pengetahuan yang cukup. Mereka juga kerap kebingungan akan dijual ke mana hasilnya.” ucapnya menjelaskan.

Melihat permasalahan ini, pemerintah telah mensubsidi, baik dari pengadaan bahan baku hingga mesin. Di sisi lain, untuk meningkatkan kemampuan IKM, telah diadakan pelatihan-pelatihan guna meningkatkan kualitas produk agar dapat bersaing di pasar dunia, sedangkan untuk masalah pemasaran, Kementerian Perindustrian telah memberikan anggaran 1-2 miliar rupiah untuk penyewaan booth dan bazar di dalam hingga luar negeri.

“Permasalahan modal saat ini bisa diatasi dengan pemberian KUR (Kredit Usaha Rakyat) dan juga ada modal ventura,” jelas Euis Saidah.

(Visited 17 times, 1 visits today)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*