admin April 11, 2018

PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) tidak hanya ingin berkembang sendiri. Kesejahteraan pihak lain juga menjadi hal penting bagi mereka. Maka, beragam dukungan kepada masyarakat mereka berikan supaya bisa sejahtera. Salah satunya ialah mendukung upaya pemberian hak paten motif batik khas Pelalawan.

Berbasis di Pangkalan Kerinci di Kabupaten Pelalawan, Riau, PT RAPP merupakan unit operasional APRIL Group. Induknya ini adalah produsen pulp dan kertas terkemuka di dunia.

Selama ini, RAPP selalu aktif dalam mendukung kesejahteraan masyarakat di sekitar area operasionalnya. Salah satu wujud nyatanya ialah mendirikan Rumah Batik Andalan di Kabupaten Pelalawan.

 Lewat Rumah Batik Andalan, RAPP Riau menjalankan program pemberdayaan wanita di Riau. Mereka mengajari para wanita untuk membatik. Sejumlah pengajar berpengalaman didatangkan untuk melatih. Namun, RAPP juga tak segan mengirim mereka yang tengah belajar untuk datang langsung ke sentra-sentra batik Indonesia seperti di Yogyakarta, Solo, maupun Pekalongan.

Sejak mulai dijalankan pada 2014, perkembangan positif dirasakan. Dari tidak bisa sama sekali, para wanita di Rumah Batik Andalan akhirnya mampu memproduksi batik sendiri. Bahkan, mereka juga bisa membuat motif batik sendiri yang menjadi ciri khas.

Langkah itu dilakukan demi mengikuti selera pasar lokal serta terdorong oleh hasrat untuk memiliki jati diri. Konsumen di Riau lebih suka dengan motif batik dengan warna-warna cerah. Selama ini, hal itu tidak bisa didapatkan dari motif-motif batik asal Yogyakarta, Surakarta, maupun Pekalongan.

Situasi ini kemudian mendorong Rumah Batik Andalan untuk membuat motif batik sendiri. Mereka kemudian mengambil inspirasi dari hal-hal di sekitarnya. Alhasil, jadilah sejumlah motif batik khas Rumah Batik Andalan. Mereka adalah motif Bono, daun akasia, eukaliptus, timun suri, dan motif lakum.

            “Kami juga kerap melakukan pelatihan kepada masyarakat, terutama para kaum ibu agar menumbuhkan rasa percaya diri mereka dalam membuat motif batik. Terbukti beberapa kreasi motif merupakan hasil buatan mereka sendiri dengan mengambil inspirasi dari alam dan kearifan lokal”, kata Manajer Program Community Development (CD) PT RAPP, Sundari Berlian,

Motif Bono didapatkan dengan inspirasi ombak Bono yang hanya ada di Kabupaten Pelalawan. Belakangan motif ini malah menjadi ikon wisata seni kriya di daerah tersebut.

Sementara itu, motif daun akasia, eukaliptus, timun suri, dan lakum diambil dari alam di sekitarnya. Akasia dan eukaliptus banyak ditemui di perkebunan milik PT RAPP. Maklum saja, pohon-pohon tersebut digunakan sebagai bahan baku pembuatan pulp dan kertas. Sedangkan timun suri dan lakum merupakan tumbuhan yang ada di Pelalawan.

Motif-motif batik ini disukai oleh banyak pihak. Konsumen sengaja memburunya karena merupakan ciri khas Pelalawan. Menilik kondisi tersebut, RAPP menilai bahwa motif unik tersebut perlu dilindungi. Caranya dengan mengajukan hak patennya.

Hal itu segera dilakukan oleh Rumah Batik Andalan dengan dukungan RAPP Riau. Sejak 2015, mereka mulai mengajukan hak paten atas motif batik ciptaannya. Mulanya hak paten motif batik Bono yang diajukan. Tidak ada kendala berarti dalam prosesnya. Pada tahun yang sama, hak paten sudah diperoleh.

 Maka, terhitung sejak Maret 2015, hak cipta batik Bono telah terdaftar secara resmi sebagai kekayaan intelektual di Kementerian Hukum dan HAM. Hal ini berarti motif batik tersebut akan dilindungi dengan Undang-Undang Nomor 14 tahun 2014 tentang Hak Cipta, yang akan berlaku selama hidup penciptanya dan terus berlangsung hingga 70 tahun setelah penciptanya meninggal dunia.

Bagi Rumah Batik Andalan, motif batik Bono memang berarti penting. Motif batik ini menjadi titik balik bagi perkembangan Rumah Batik Andalan. Setelah melihat motif unik tersebut, banyak pihak seperti instansi pemerintah yang memesan. Bahkan, motif batik khas Pelalawan ini mendapat apresiasi dari Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, saat mengunjungi Pelalawan pada 2015.

MOTIF LAIN MENYUSUL

Kesuksesan yang diraih motif batik Bono dalam memperoleh hak cipta rupanya semakin mempertebal semangat Rumah Batik Andalan untuk mengejar hal serupa di motif-motif lain. Maka, pusat produksi batik yang didukung oleh PT RAPP ini segera mengajukan hak paten untuk motif timun suri, akasia, eukaliptus, serta lakum.

Proses pengajuan dilakukan pada 2016. Semuanya berjalan lancar sehingga motif batik khas Pelalawan tersebut memperoleh hak cipta. Dengan demikian ada perlindungan terhadap hasil karya Rumah Batik Andalan tersebut.

Perolehan hak paten bukan hal sembarangan. Memilikinya akan sangat membantu para perajin batik karena ada hasil karyanya tidak dapat ditiru oleh pihak lain. Produk-produk mereka dilindungi secara hukum.

 Di Provinsi Riau, belum banyak motif batik yang bisa memperoleh hak paten. Seperti dipaparkan oleh Kepala Dinas Perindustrian (Disperin) Provinsi Riau, Muhammad Firdaus, ada ratusan motif batik di wilayahnya. Namun, jumlah yang memperoleh hak cipta masih minim.

            “Kalau corak ada banyak, sekitar 300 lebih, tapi yang memiliki hak cipta baru 39 corak. Kami mendorong terus agar ‎pelaku batik dapat terus berinovasi dan berkreasi menciptakan corak-corak baru yang berkualitas dan bisa dihakciptakan,” kata Firdaus di Cakaplah.com pada Agustus 2017.

Melihat kondisi tersebut, dukungan Riau Andalan Pulp & Paper dalam proses pengajuan hak paten terasa sangat berarti. Hal itu akan memudahkan Rumah Batik Andalan untuk berkembang.

Sebelumnya RAPP Riau memang berinisiatif untuk melahirkan Rumah Batik Andalan dengan maksud untuk memberdayakan kaum perempuan di Pelalawan. RAPP tahu banyak di antara mereka yang hanya menganggur. Selain mengurus rumah, mereka tidak memiliki pekerjaan sehingga tidak bisa membantu perekonomian keluarga.

PT RAPP ingin mengubah situasi tersebut. Para wanita diberi keterampilan membatik dengan harapan bisa memperoleh penghasilan tambahan untuk keluarga.

Harapan tersebut bisa menjadi kenyataan. Para wanita di Rumah Batik Andalan bisa memperoleh penghasilan tambahan. Mereka dapat menjual batik hasil buatannya ke konsumen.

Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Nikmah. Wanita yang bergabung ke Rumah Batik Andalan sejak 2015 ini merasakan betul dampak positif keterampilan membatik yang dimilikinya. Dari tidak punya penghasilan, ia mampu menghasilkan uang sendiri untuk membantu suaminya.

Nikmah kini sudah menjadi pembatik tetap di Rumah Batik Andalan. Sejak itu, ia mampu memiliki rumah tinggal sendiri setelah sebelumnya hanya mengontrak. Selain itu, Nikmah sanggup membeli sepeda motor yang dipergunakannya sebagai sarana transportasi.

            “Harapan saya ke depan, usaha batik ini terus berkembang dan saya bisa menabung untuk berangkat umrah,” kata Nikmah di Bisnis.com.

Kerja keras PT RAPP dalam membesarkan Rumah Batik Andalan memang mulai terbayar. Jatuh bangun ketika merintisnya sudah terganti dengan keberhasilan yang diraih. Para pembatik sudah mandiri mampu menghasilkan batik sendiri serta menjualnya.

Saat ini, mereka juga terus memproduksi berbagi jenis motif. Ditaksir sudah ada ratusan motif yang mampu dihasilkan oleh Rumah Batik Andalan. Ke depan diharapkan motif-motif tersebut bisa memiliki hak paten seperti lima motif terdahulunya. PT RAPP akan siap mendukung upaya pengajuannya.

(Visited 18 times, 1 visits today)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.